Belajar Menghargai Uang

0
1076

PASTI menyenangkan dan membanggakan kalau kita punya penghasilan sendiri, selain mendapat uang saku dari orangtua. Kita lebih leluasa untuk membeli barang yang disukai, menjalankan hobi dan kesenangan lain, memenuhi kebutuhan pribadi, serta belajar menabung dan mulai berinvestasi.

Ada banyak cara bagi mahasiswa untuk mendapat uang tambahan. Mulai dari menjadi guru les, bekerja paruh waktu, mengirim tulisan atau foto, bahkan dari menekuni hobi seperti menari, menyanyi, atau menjadi pembawa acara.

Mereka yang mampu menghasilkan uang tambahan itu biasanya memanfaatkannya untuk membayar uang kuliah demi meringankan beban orangtua. Bahkan, ada mahasiswa yang memutuskan untuk menabung dan mulai berpikir untuk masa depan.

Ade Krisnaga Syarfuan, Ketua Panitia Kompetisi Nasional Seni Lukis Remaja (KNSLR) 2014 yang juga ibu lima anak ini, mendukung mahasiswa yang sambil kuliah mau bekerja sambilan agar mendapat penghasilan sendiri. Dua anaknya yang mahasiswa juga bekerja sambilan.

”Selama tidak mengganggu urusan kuliah, saya setuju. Bekerja dan bisa mencari uang sendiri melatih mahasiswa untuk bertanggung jawab dan mandiri. Namun, saya tidak setuju jika karena keasyikan bekerja dan punya uang sendiri, mahasiswa malah lupa dengan kewajibannya, merampungkan studi,” kata Ade.

Kosmetik untuk menari

Rahma Nurdiara Fadhilah, mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Persada Indonesia Yayasan Administrasi Indonesia, Salemba, Jakarta Pusat, lebih suka menari sejak kecil dan mulai punya penghasilan ketika masih duduk di sekolah dasar.

Ketika itu, uang hasil dia menari dipegang sepenuhnya oleh sang bunda. Baru ketika duduk di bangku SMP dan SMA, dia boleh mengelola separuh dari uang penghasilannya sendiri dan sisanya masih dipegang ibunya. Begitu kuliah, Rahma berhak mengelola sendiri uang hasil menari tersebut.

”Biasanya saya memakai uang itu untuk membayar kuliah, membeli kebutuhan sehari-hari seperti gawai dan buku. Selain itu, saya juga membeli kosmetik karena merupakan kebutuhan vital sebagai penari,” kata Rahma yang kini bergabung di Denny Malik Entertainment (DME).

Dalam sebulan Rahma punya beberapa jadwal menari untuk berbagai acara seperti peluncuran produk, pentas di luar kota, bahkan pentas di luar negeri. Rahma antara lain diajak menari dan tampil di Kuala Lumpur, Malaysia, serta saat upacara penutupan pesta olahraga Asian Games 2014 di Incheon, Korea Selatan.

Menurut Rahma, selain dapat memuaskan hobinya, menari juga membuatnya punya penghasilan sendiri dan dapat melancong ke luar negeri tanpa biaya. Sejak punya penghasilan itulah, Rahma menjadi makin menyadari tak mudah untuk mencari uang dan dia tak tega menghamburkan uang untuk kegiatan tak penting seperti nongkrong di kafe atau selalu menonton film baru.

”Usai menari, kami biasanya nongkrong bareng di suatu tempat. Itu saja sudah membuat saya senang. Apalagi acara menari biasanya berlangsung di tempat asyik seperti hotel,” ujar Rahma yang gemar menabung ini.

Dari komunitas

Sementara Anggun Putri Pratiwi, mahasiswa semester V program studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Universitas Bakrie, Jakarta, mulai memiliki penghasilan sendiri sejak semester lalu. Dia bergabung dengan komunitas Young On Top.

”Saya belajar banyak dari kegiatan itu, dan mendapat peluang untuk bekerja sambilan di berbagai event seperti Java Jazz atau menjadi pembawa acara,” kata Anggun yang memandu acara pameran KNSLR 2014 di Plaza Senayan, Jakarta, Jumat (10/10).

Biasanya, dia memanfaatkan uang penghasilannya untuk membeli kebutuhan pribadi seperti pakaian, sepatu, keperluan studi, dan rekreasi. ”Saya jarang membeli kosmetik karena sehari-hari tak suka berdandan,” ujar Anggun.

Sementara Amelia Ayang Sabrina, mahasiswa jurusan Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI), baru sekali bekerja sambilan sebagai tenaga survei.

”Menyenangkan dan menambah pengalaman saya. Honor sebagai tenaga survei, saya pakai untuk jalan-jalan ke Yogyakarta,” ujar Amelia tanpa menyebutkan honornya.

Mulai berbisnis

Lain halnya dengan Riani Sanusi Putri, mahasiswa jurusan Antropologi Sosial FISIP UI, ini bersama dua temannya mencari uang tambahan dengan berbisnis online (daring). Mereka membuat dan menjual aksesori seperti bros dan kalung dari bahan flanel dan kain.

”Uang hasil berbisnis itu dipakai untuk membeli novel karena saya suka membaca. Selain juga untuk membeli keperluan sehari-hari dan ditabung,” ujar Riani.

Untuk mencari penghasilan sendiri, tidak selalu harus dengan bekerja untuk orang lain atau kita membutuhkan modal sejumlah tertentu. Ada pula pekerjaan yang modal awalnya relatif ringan, tetapi memberi penghasilan lumayan. Salah satunya dengan menjadi guru les.

”Ini tidak terlalu sulit karena saya telah bekerja sebagai guru privat sejak kelas I SMA,” kata Ummi Bunayatul Azrah, mahasiswa jurusan Sastra Arab Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here