Hey Mahasiswa, Kamu lagi PKL? Yuk! Intip Tips Ini Biar Makin Berkesan

0
957
Instgram @mariact

Tiap kampus punya peraturan berbeda tapi mengenai tempat Praktek Kerja Lapangan. Tempat itu haruslah sesuai minat si mahasiswa agar dia enjoy menjalani prakteknya. Mahasiswa juga boleh PKL sendirian atau berkelompok. Sebagian orang mengatakan sebetulnya cari tempat PKL itu gampang kok. Tergantung bagaimana kita punya networking yang dapat membantu kita bergabung dengan sebuah organisasi. seperti pemda, perusahaan negara ataupun swasta pada dasarnya adalah sebuah organisasi.

Tidak bisa dipungkiri kalau sebagian mahasiswa menjadikan standar tempat PKL-nya sebagai gengsi. Prestige. Semakin besar atau ternama organisasi yang ia masuki, semakin banggalah ia. Padahal bukan itu tujuan utama kita ke sana. Hal yang harus kita kejar justru adalah bagaimana caranya bisa tumbuh dan berkarya di tempat PKL tersebut. Bagaimana kita sebagai mahasiswa merasakan terjun ke dunia kerja sesungguhnya dan mendapatkan sebanyak-banyaknya pengalaman. Nilai juga bukan prioritas pertama dalam melaksanakan PKL. Sebab pengalaman yang kita dapatkan tidak sebanding dengan nilai di atas kertas. Jadi kalau diurutkan, tingkat pertama adalah pengalaman, selanjutnya nilai, barulah terakhir nama dari tempat PKLnya, cocok?

Mahasiswa mana yang tidak senang masuk ke tempat PKL yang memiliki kredibilitas. Minimal, setiap menyebut nama organisasi tersebut, orang langsung tahu. Namun hal tersebut tidak akan ada gunanya kalau kita sendiri tidak mampu beradaptasi dan menunjukkan kualitas diri. Sebab apa gunanya bila kita bergabung dengan sebuah organisasi tapi kita sendiri tidak menjadi apa-apa di dalamnya?
Berikut anakusu.com merangkum tips agar kamu maksimal menjalankan proses PKL dengan baik.

1. Aktif!
Selagi kuliah  berusahalah membangun relasi. Sebagai anak baru di sebuah organisasi pasti banyak yang tidak kita ketahui. Tunjukkan rasa ingin tahu, tanyakan berbagai hal mengenai pekerjaan. Karena malu bertanya kan susah di jalan dan bias jadi tak tahu arah jalan pulang, hahahah. Jadilah proaktif dengan menanyakan SOP (Standar Operasional Prosedur) atau langkah kerja dalam mengerjakan sesuatu. Kalau perlu catat penjelasannya. Sebab bila kita hanya mengandalkan ingatan, bisa saja kita lupa. Lain halnya kalau kita punya “peninggalan” atau arsip dalam bentuk tertulis. Kita bisa lebih meyakininya ketimbang berpikir “seingat saya sih begini”.

Aktif bukan berarti bawel dan maruk lho ya . Kalau sikap kita berlebihan, orang bisa tidak nyaman. Cari waktu luang rekan kerja, tanyakan apa yang kita butuhkan. Atau kita bisa melakukannya dengan mencari tahu sendiri. Dewasa ini, organisasi besar menyimpan datanya di internet. Kita bisa mencari tahu profil sebuah organisasi dari website resminya, situs intranetnya, atau jaringan surat elektroniknya. Pelajari baik-baik kultur dari sebuah organisasi. Ikuti ritme kerjanya. Misal, bagaimana berkomunikasi menggunakan surat elektronik? Ke mana kita mencari informasi mengenai departemen lain? Siapa yang bisa kita hubungi mengenai kegiatan A? Bila ingin mengakses data B, ke mana atau siapa yang memiliki kuasa?.

Jadi ketika ada pertanyaan “Bagaimana ya mencari visi misi perusahaan dan lainnya?” rasanya ini bukan pertanyaan yang bagus apalagi menunjukkan keingintahuan. Ini justru menunjukkan kemalasan. Artinya, ia memasuki sebuah organisasi tanpa tahu apapun mengenai organisasi itu. Dengan teknologi yang maju, mayoritas organisasi yang berkaitan dengan dunia bisnis atau mengurusi hajat hidup orang banyak akan menampilkan visi misinya di website resmi yang bebas diakses masyarakat seluruh dunia. Ada juga organisasi yang memberikan pembekalan bagi karyawan baru untuk mengenal profil dari organisasi itu sendiri.
Selain itu untuk lebih mengenal perusahaan cara mudahnya adalah dengan membaca media internalnya. Dunia komunikasi biasa menyebutnya inhouse magazine. Semisal markplus, inc. yang memiliki marketeers atau Freeport Indonesia yang memiliki Berita Kita. Media internal sebuah organisasi akan mencerminkan bagaimana organisasi tersebut menampilkan dirinya pada stakeholder internal, bagaimana ia membahasakan informasi karena salah satu fungsi strategisnya sebagai gatekeeper, atau sekedar bagaimana ia menunjukkan eksistensinya. Gatekeeper yang dimaksud adalah filter atas informasi yang bisa diakses oleh pihak internal.
Cuma lebih disarankan melalui website, situs intranet, dan media internal organisasi sebagai cara untuk mengidentifikasi profilnya. Bila ingin jalan tikus, coba hubungi HRD atau membaca booklet profil organisasi yang disediakan untuk tamu atau laporan tahunan bila memungkinkan.

Keaktifan lainnya bukan cuma soal ingin tahu dan pengetahuan kita sendiri mengenai organisasi yang dimasuki. Aktif juga berarti keterlibatan kita bekerja dalam tim. Namanya juga organisasi, mana mungkin kita kerja seorang diri. Tentu kita terhubung dengan banyak orang dengan karakter beraneka ragam. Kemampuan kita memahami latar belakang orang lain juga sangat dibutuhkan.
Ini dikarnakan sebagai anak PKL perlu mengamati sekaligus mempelajari berbagai hal mengenai dunia kerja. Sehingga kita tahu keadaan organisasi itu luar dalam, tidak hanya sekedar mengerjakan perintah atau instruksi dari atasan. Sebab bila kita membiarkan diri buta, kita tidak akan benar-benar memahami pekerjaan itu. Mengapa kita mengerjakannya, apa dampaknya, atau apa hasil yang diinginkan dari yang kita kerjakan. Semakin banyak informasi yang kita miliki akan semakin baik. Kalaupun ternyata benar-benar tidak bersinggungan dengan kita, anggap saja sebagai pelajaran tambahan. Tidak ada yang sia-sia di dunia ini, bukan?

Cara lain untuk aktif adalah mencoba pekerjaan di luar pos kita. Libatkan diri dengan mengamati, membantu, lalu mulai mengerjakan sendiri. Jangan lupa, Kalau organisasi yang kita masuki sedang menyelenggarakan acara, tidak ada salahnya untuk ikut, minimal sambil belajar atau meramaikan kegiatan. Berkenalanlah dengan sebanyak-banyaknya orang. Sedikit malu tidak apa-apa. Kuncinya keramahan dan kerendahan hati. Sehingga kita mendapat pengalaman sekaligus teman.

2. Cintai pekerjaanmu
Ada nasehat yang bunyinya begini “Do it with passion or not at all” Gairah itu perlu. Hidup tanpa semangat bukanlah hidup namanya. Begitu juga dengan pekerjaan. Katakanlah, kita merasa bosan dengan rutinitas tugas-tugas di tempat PKL. Seperti halnya ketika kita bosan dengan dunia kuliah, dosen yang pelit nilai, atau teman yang tidak bisa diajak main. Namun ketika kita tahu yang kita lakoni adalah sebuah passion, semangat itu akan kembali. Semangat akan membuat kita sungguh-sungguh mengerjakan sesuatu, bukan hanya karena tanggung jawab tapi karena itu bagian dari diri kita.

3. Rasa memiliki
Bila kita bergabung dengan sebuah organisasi, tumbuhkanlah rasa memiliki. Sehingga kita pun dianggap bagian dari organisasi itu sendiri. Semakin kita peduli, semakin erat kita terikat. Sehingga kita tidak dianggap asing. Dengan tumbuhnya rasa memiliki dan dimiliki ini, kita punya tujuan lain dalam mengerjakan tugas-tugas. Kita memiliki goal atas nama kepentingan organisasi, bukan sekedar kewajiban untuk melaksanakan PKL. Sehingga hasil pekerjaan kita akan lebih baik. Ingat, dalam rasa memiliki kita tidak boleh seeenaknya bertindak di tempat PKL kita yaah, kita hanya “tamu” ditempat tersebut.

4. Peduli dengan teman
Peduli dengan teman-teman kerja itu perlu. Bukan sekedar menghubungi mereka karena membahas pekerjaan. Tapi juga mencoba mengetahui kehidupan mereka dan mendengarkan kisah-kisah mereka. Orang suka didengar. Dan menjadi pendengar sebetulnya tidak mudah. Kita lebih mudah kehilangan fokus dibanding mendengar keseluruhan cerita dari seorang teman. Kepedulian itu tidak hanya melatih kita dalam kehidupan sosial tapi juga mempermudah kita berhubungan dalam pekerjaan. Karena kita telah terhubung secara personal, teman akan lebih nyaman dalam berinteraksi. Rasa segan akan terkikis. Nantinya bila kita menemui kesulitan, kita akan mendapat kemudahan dari teman-teman.

5. Terima perbedaan
Dunia kerja bukan dunia kampus. Di kampus kita punya teman-teman untuk curhat atau jajan ke kantin. Sementara dunia kerja cenderung lebih individualis. Tidak bisa disamaratakan memang. Namun dunia kerja bukanlah dunia ala kampus di mana kita bisa saja melakukan berbagai hal secara kompak dan bersama-sama dengan teman satu kelas. Apalagi bila kita bergabung dalam departemen sebuah organisasi dengan mobilitas karyawan yang tinggi. Setiap orang akan sibuk dengan tugasnya masing-masing dan baru akan saling menyapa di kala jeda. Dunia kerja bisa terasa sangat sepi dibanding dunia kampus. Terima itu sebagai perbedaan kultur. Apalagi target yang dikejar di dunia kerja bukanlah angka-angka di transkrip nilai semester.
Perbedaan lain yang perlu kita pahami agar tidak mengalami culture shock berlebihan adalah heterogenitas orang-orangnya. Banyak  orang dari berbagai latar belakang budaya. Apalagi dengan kebiasaan tiap individu yang berbeda. Jalani dan hadapi segala perbedaan dan tak perlu khawatir kalau kita tidak mampu. Anggap saja perbedaan-perbedaan itu seperti layaknya ketika kita lebih suka es krim vanila sementara teman kita membeli es krim coklat. Jangan sampai kesulitan kita menerima latar belakang seseorang menghambat kita dalam pekerjaan.

6. Portofolio
Simpan baik-baik tugas kampus yang pernah dikerjakan. Kita tidak akan tahu kapan tugas-tugas itu dibutuhkan. Bisa saja di tempat pkl mereka ingin melihat apa yang pernah kita pelajari dan kerjakan selama di bangku kuliah. Entah hasilnya buruk atau bagus atau biasa saja, itulah hasil karya kita. Usahakan menunjukkan karya-karya terbaik kita. Sebab salah satu manfaat dari PKL adalah pertukaran ilmu antara dunia akademik dengan dunia usaha. Dunia akademik dapat memperbaharui kurikulum mereka berdasarkan perkembangan dunia usaha. Sementara dunia usaha bisa mempertajam analisa dengan teori-teori dari dunia akademik. Bisa juga dunia usaha mendapatkan pencerahan berdasarkan pengetahuan dari dunia akademik. Karena tidak semua orang yang terjun di duniausaha menguasai bidangnya atau menekuni bidang ilmu yang sesuai. Orang hukum bisa bergabung di organisasi pecinta alam, orang ekonomi bisa bekerja di bidang kuliner. Dunia akademik dapat membimbing organisasi. Bagi kita sendiri, orang dapat mengetahui kemampuan dan perkembangan kita melalui karya-karya tersebut.

7. Beri kesan
Kita berpeluang besar untuk bergabung secara tetap dengan organisasi tersebut karena kita pernah PKL di sana. Sebab organisasi akan tahu rekam jejak kita, bagaimana kinerja kita selama PKL, dan kenyataan bahwa kita bukan orang baru. Minimal kita tahu bagaimana ritme kerja organisasi tersebut. Sehingga organisasi menganggap kita lebih berpeluang dibanding orang lain. Kesan tersebut juga dapat menolong bila kita bergabung dengan organisasi lain. Sebab bila rekam jejak kita ditelusuri, ada orang yang bisa membuktikan atau minimal mengatakan sejauh mana kemampuan kita.
Kesan itu bukan cuma muncul selama kita melaksanakan PKL tapi juga ketika kita telah menyelesaikannya. Tetap jaga hubungan baik dan tinggalkan kontak. Sehingga orang tahu bagaimana menghubungi kita. Kata-kata sederhana semisal ucapan terima kasih karena telah membantu besar manfaatnya lho sob. Selain itu kita bisa membuat handover. handover adalah tanda profesionalitas. Handover adalah laporan atas apa saja yang telah kita kerjakan ketika menempati pos pekerjaan tertentu atau bergabung di organisasi tertentu. Sekalipun apa yang kita kerjakan sederhana, tunjukkan bahwa kita melakukannya dengan sungguh-sungguh. Yaitu dengan tidak melewatkan pekerjaan yang pernah kita lakukan dengan menuliskannya dalam handover. Hargai diri kita sendiri dan hasil dari pekerjaan kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here