Indonesia Indah tapi Banyak Wisman Tidak Tahu…

0
1250

JAKARTA, KOMPAS.com – Konektivitas merupakan salah satu kendala dalam mempromosikan Indonesia di dunia pariwisata internasional. Seperti dituturkan Duta Besar Indonesia untuk Hongaria Wening Esthyprobo, Indonesia merupakan negara yang indah, tetapi banyak orang yang tidak tahu.

“Kebanyakan orang Eropa stop di Bangkok atau Kuala Lumpur, tidak sampai Indonesia. Thai Airways itu misalnya ada penerbangan langsung Oslo (Norwegia)-Bangkok dan selalu full. Kita nggak punya,” ungkap Wening yang sebelumnya bertugas sebagai Minister Counsellor di Norwegia, saat ditemui di sela-sela acara “Media Workshop: Hello Budapest” di Jakarta, Senin (3/11/2014).

Ia mengaku banyak orang yang akhirnya tidak mengenal Indonesia karena memang di kawasan Eropa hanya sedikit rute penerbangan langsung ke Indonesia. “Seperti di Norwegia, banyak yang tanya ‘bagaimana caranya untuk mencapai ke negaramu’. Kita nggak ada konektivitas dengan Norwegia,” kata Wening.

Apalagi, lanjutnya, Norwegia dan negara-negara Eropa utara belum dipandang sebagai prioritas untuk promosi pariwisata Indonesia oleh Kementerian Pariwisata. Padahal, daya beli orang Norwegia sangat tinggi.

KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES Para peserta kirab budaya bersiap-siap di lapangan Ngara Lamo, Ternate, Maluku Utara, Senin (14/4/2014). Kirab tersebut merupakan bagian dari Festival Legu Gam ke-13 yang berlangsung hingga 26 April. Festival menampilkan berbagai kegiatan lainnya seperti fashion street dan jelajah Samudera Kie Raha, yang sekaligus menjadi perayaan hari ulang tahun ke-79 Sultan Ternate.

“Norwegia itu negara kaya, ekonominya kuat. Mereka seakan digaji untuk liburan atau wisata. Jadi di bulan Juni atau Juli mereka terima gaji ke-13. Mereka lalu pergi berlibur,” katanya.

Promosi Indonesia di Hungaria

Sementara itu, Wening berencana untuk mempromosikan Indonesia di Hongaria dengan cara “blusukan” ke sekolah-sekolah dasar di Hongaria. Ia mengungkapkan anak kecil masih lebih gampang dipengaruhi.

“Kita bisa putarkan misalnya film pendek di sekolah. Harapannya saat mereka pulang ke rumah, mereka cerita ke orang tua mereka,” tutur Wening.

KOMPAS.com/Yohanes Kurnia Irawan Beberapa warga mengenakan pakaian adat Dayak Iban tampak sedang mempersiapkan ritual penyambutan dalam rangkaian Festival Danau Sentarum-Betung Kerihun di Kota Lanjak, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Kamis (12/12/2013).

Apalagi, tambahnya, Hongaria merupakan negara yang tidak memiliki laut. Sementara Indonesia sebagai negara kepulauan dapat menawarkan wisata laut. “Saya juga kepikiran industri kerajinan kerang di Cirebon. Jika bisa diekspor ke Hongaria tentu terkesan eksotis untuk negara yang tidak punya laut,” tuturnya.

Wening juga mengaku sudah bertemu dengan pengusaha yang berencana membuka restoran Indonesia di Budapest. Hal ini dapat mempromosikan Indonesia tidak hanya kepada orang Hongaria namun turis mancanegara.

“Budapest itu tidak perlu dipromosikan juga orang-orang datang ke sana. Orang-orang bilang Hongaria itu negeri tercantik di Eropa. Turis sangat banyak di Budapest. Restoran Indonesia itu bisa untuk mengaet turis-turis di Budapest,” jelasnya.

BARRY KUSUMA Gunung Bromo.

Sebagai jalinan hubungan dua arah, Wening juga ingin memperkenalkan Hongaria sebagai alternatif tempat untuk mengenyam pendidikan S2 dan S3. Ia menambahkan beberapa perguruan tinggi di Hongaria akan menawarkan beasiswa untuk orang Indonesia.

“Kita memang kiblatnya untuk pendidikan masih Amerika Serikat dan Australia. Kita coba dorong agar tawaran pendidikan di Hongaria dimanfaatkan,” katanya.

Selain itu, lanjutnya, jika dibanding-bandingkan, biaya pendidikan di Hongaria bisa sekitar 30 persen lebih murah dibanding Amerika Serikat dan Australia. Menurut Wening, untuk biaya hidup, Hungaria termasuk yang terjangkau di kawasan Eropa. “Tidak mahal seperti Norwegia dan negara-negara Skandinavia,” katanya.

LEAVE A REPLY