Kenapa Para Eksekutif Apple dan Google Menyekolahkan Anak-Anak Mereka di Sekolah Yang Tidak Ada Komputer di Dalam Kelasnya?

0
1832
waldorf school of the peninsula

Apa yang kamu pikirkan bila mendengar kata ‘Apple’? Spontan kamu mengingat perusahaan teknologi dunia yang membuat iPhone dan iPad, bukan?

Tunggu dulu, jawaban pertanyaan ini akan berbeda bila ditanyakan ke anak-anak dari eksekutif Apple, Google, Ebay atau perusahaan teknologi dunia lainnya. Bila ditanya tentang ‘apple’, mereka akan menjawab buah-buahan. Dan mereka lebih suka ‘doodle’ (menggambar dengan melamun) daripada ‘google’.

Kenapa begitu? Karena Eksekutif dari Google, Apple, Yahoo dan Hewleet-Packard menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah dasar yang tidak akan ditemukan satu komputer pun di kelas-kelasnya. Sekolah itu adalah Waldorf School of the Peninsula, satu dari 160 Waldorf schools di Amerika Serikat yang menganut filosifi mengajar yang berfokus pada aktifitas fisik dan belajar melalui tugas-tugas yang merangsan kreatifitas. Dan filosofi ini beranggapan bahwa komputer dapat menghambat interaksi, gerakan dan proses berpikir kreatif anak.

Alan Eagle, salah satu eksekutif Google yang menyekolahkan anaknya di Waldorf School, mengatakan: “Saya sangat tidak setuju dengan anggapan bahwa kamu membutuhkan bantuan teknologi di kelas bahasa. Gagasan yang mengatakan aplikasi di iPad lebih baik mengajar anak saya membaca dan berhitung, ini menggelikan.”

Alan Eagle adalah tamatan Ilmu Komputer dari satu universitas di Dartmouth dan sekarang bekerja di divisi komunikasi Google, yang mana ia bertugas merancang pidato-pidato CEO Google, Eric Schmidt.

Tiga dari empat anak yang sekolah di Wardorf School mempunyai orang tua yang bekerja di bidang teknologi. Para orang tua mereka tidak melihat adanya kontradiksi akan hal ini. Mereka mengatakan bahwa teknologi mempunyai waktu dan tempat yang tepat untuk diajarkan ke anak-anak.

Waldorf Schools adalah sekolah yang unik, berlokasi di jantung teknologi dunia, Sillicon Valley, namun kelas-kelas di sekolah ini di dekorasi berkesan retro dan sederhana. Seperti waktu kita sekolah dasar dulu, di kelas terdapat papan tulis hitam, kapur warna-warni, rak buku berisikan ensklopedia, meja-meja kayu dan buku-buku tulis dengan pensil.

waldorf shools

Anak-anak kelas lima diberi pelajaran merajut. Pihak sekolah mengatakan bahwa keterampilan ini membantu anak dalam mengembangkan kemampuan mememecahkan masalah. Selain itu juga dapat mengasah kemampuan berhitung, membentuk pola dan kordinasi.

Lain lagi dengan anak-anak di kelas tiga. Guru mereka mengajarkan matematika dengan cara yang unik. Sang guru meminta anak-anak untuk berpura-pura menjadi kumpulan sambaran petir. Ketika guru bertanya soal matematika – empat kali lima – secara serentak dan segera murid menjawab “20” dan menunjuk angkat dua puluh yang tertulis di papan tulis. Sebuah permainan yang memadukan kemampuan berhitung dan interaksi manusia.

Apakah metode pendidikan anak di Waldorf Schools berhasil? Satu peneletian yang dilakukan tahun 1994 sampai 2004 menunjukkan bahwa 94 persen siswa yang tamat dari Waldorf high schools diterima di berbagai universitas, seperti Oberlin College, Vassar College dan University of Berkeley.

Apakah kamu setuju tentang pendidikan sekolah dasar dengan metode seperti ini? Bagaimana pendapatmu?

Sumber: New York Times

LEAVE A REPLY