Memperkenalkan Sejarah Lewat Film

0
785

SEJARAH bangsa ini pernah memiliki catatan hitam. Salah satunya peristiwa pada 30 September 1965. Setelah berpuluh tahun, peristiwa itu tetap menimbulkan kontroversi. Pada masa Orde Baru, setiap tanggal tersebut Televisi Republik Indonesia selalu menayangkan film tentang peristiwa G30S/PKI.

Kejelasan film tersebut masih diperdebatkan, entah siapa yang menjadi dalang dan korban belum menemukan titik temu yang final. Hingga kini, misteri peristiwa tersebut masih belum terpecahkan seluruhnya. Terlepas dari kontroversi peristiwa itu, terbukti film menjadi media efektif untuk menggiring opini masyarakat.

Peran film ini yang membuat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan dan Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya mengadakan Lomba Visualisasi Sejarah dan Nilai Budaya pada 18-24 Agustus 2014. Terpilih 20 proposal dari mahasiswa se-Indonesia yang mendapat lokakarya tentang film.

Mahasiswa pengusul proposal wajib mengumpulkan karya berupa film. Mereka datang dari sejumlah daerah, ilmu, jurusan, dan program studi, seperti pendidikan ekonomi, penyiaran, ilmu sejarah, hukum, sastra Arab, dan ilmu politik.
Film juga menjadi ruang penting dalam perdebatan intelektual. Apalagi film tentang sejarah tak hanya dapat digarap sejarawan atau sineas belaka. Saling-silang ilmu membuat sejarah menjadi lebih beragam dan kaya perspektif sehingga terwujud cita-cita demokratisasi sejarah.

Sebagai salah satu proposal mahasiswa yang terpilih dalam kompetisi tersebut, kami yang tergabung dalam Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Sebelas Maret, Surakarta, Jawa Tengah, mengangkat potensi lokal sebagai titik sentral film.
Potensi lokal itu mewujud dalam sosok Mbok Mase Laweyan. Ini salah satu keunikan sejarah di Kampung Batik Laweyan, yang layak didokumentasikan.

Keunikan sejarah
Secara geografis, kampung Laweyan berada di dekat Sungai Jenes dengan segudang kisahnya. Di sini ada peristiwa bersejarah beserta peninggalan dan beragam situs. Peninggalan itu membuktikan Laweyan sebagai daerah warisan penting dalam perkembangan kota pada zamannya.

”Artefak peninggalan masa lampau di Laweyan antara lain Bandar Kabanaran, Tugu Laweyan, bungker, Masjid Laweyan, Langgar Merdeka, Langgar Laweyan, makam Ki Ageng Henis, dan Masjid Makmur,” kata Alpha Febela, Ketua Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan.

Laweyan tak lepas dari batik. Di sini ada ratusan desain dan model batik. Secara historis, Kampung Laweyan sejak zaman Kerajaan Pajang adalah hunian saudagar batik ternama dalam manajemen perdagangan. Kesuksesan sistem perdagangan saudagar batik di Laweyan adalah hasil kerja keras juragan batik alias Mbok Mase.
Mbok Mase adalah gelar bagi kalangan non-aristokrat. Gelar atau sebutan itu diberikan masyarakat wong cilik sebagai klien yang aktif dalam dunia perdagangan batik, bagi patronnya, para perempuan saudagar Jawa.
Para perempuan Laweyan yang disebut Mbok Mase mempunyai kedudukan yang tinggi dalam keluarga. Berbeda dengan anggota masyarakat lain yang menempatkan suami sebagai pembuat keputusan dalam keluarga, bagi masyarakat Laweyan perempuan adalah tumpuan, penentu segala keputusan keluarga. Ada banyak bukti kesuksesan Mbok Mase dalam mengelola usaha batik.
Heri Priyatmoko, sejarawan muda Solo, mengatakan, pada awal abad ke-20 kejayaan Mbok Mase melebihi kemampuan bangsawan Jawa.
”Mereka sangat kaya, mampu membeli mobil seperti milik para bangsawan, seperangkat alat karawitan, dan radio yang semula hanya milik kaum berduit,” kata Heri.

Fakta itu sekaligus meruntuhkan mitos pribumi bersifat pemalas. Bahkan, Mbok Mase dapat mendobrak feodalisme yang tumbuh subur di Surakarta karena adanya Kerajaan Mataram. Kegigihan dan kerja keras mereka merupakan nilai-nilai yang tetap ditiru sepanjang masa, di mana pun.

Keunikan Mbok Mase itu selayaknya difilmkan mengingat anak muda lebih suka menonton film dan belajar dari film. Langkah ini juga untuk menjembatani generasi muda yang enggan mempelajari sejarah lewat buku atau mencari informasi di perpustakaan. Selain itu, film itu berfungsi sebagai kajian sejarah dan mendokumentasikan sejarah setempat dan kebudayaannya. Film bukan hanya untuk memublikasikan, melainkan juga memvisualkan sejarah. Membuat film adalah kegiatan unik, asyik, dan menyenangkan.

Oleh:

LEAVE A REPLY