Mirisnya Keadaan “RUMAH” Guru Patimpus

0
2939

Hari Pahlawan atau Hari Pahlawan Nasional dapat merujuk pada sejumlah peringatan hari pahlawan nasional di berbagai negara. Hari Pahlawan sering diselenggarakan pada hari kelahiran pahlawan nasional maupun peringatan peristiwa yang mengantarkan
mereka jadi pahlawan.

Tepat di tanggal 11 november 2015 ini, Hari momentum itu diperingati

sobat kampus tahu siapa pendiri kota medan?

sobat kampus sudah pasti tidak semua dari kota medan bukan?

atau bisa jadi yang asli orang medan pun tidak tahu, Mari sama-sama menyimak Cerita perjalanan KATAN MAHASISWA KARO (IMKA) ERKALIAGA FH USU yang baru bertamu di rumah Pendiri Kota Medan.

guru-patimpus

Guru Patimpus Sembiring Pelawi (lahir di Aji Jahe, hidup sekitar akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17), Guru Patimpus berasal dari dataran tinggi Karo. Guru Patimpus Sembiring Pelawi adalah orang yang dikenal sebagai pendiri Medan, Sumatera Utara, Indonesia. Yang diambil dari Kata Madan

Sebelum Guru Patimpus Sembiring Pelawi memeluk Agama Islam, dia adalah seorang yang mempunyai kepercayaan Pemena. Guru Patimpus Sembiring Pelawi menikah dengan seorang putri Raja Pulo Brayan dan mempunyai dua anak lelaki, masing-masing bernama Kolok dan Kecik.

Setelah menikah, Guru Patimpus Sembiring pelawi dan istrinya membuka kawasan hutan antara Sungai Deli dan Sungai Babura yang kemudian menjadi Kampung Medan. Tanggal kejadian ini biasanya disebut sebagai 1 Juli 1590, yang kini diperingati sebagai hari jadi kota Medan.

IKATAN MAHASISWA KARO (IMKA) ERKALIAGA FH USU baru baru ini melakukan ziarah ke makam Guru Patimpus Sembiring Pelawi simantek Kota Medan.

Hal ini dilakukan untuk menghargai leluhur terdahulu yang sangat berjasa bagi kota Medan yakni suku Karo yaitu Guru Patimpus marga Sembiring Pelawi.

12240143_1024326684254872_2384026205464216138_n

12190830_1024326580921549_3268441172278986964_n

sekitar tahun 1590 M Beliau membuka dan mendirikan kampung di pertemuan Sungai Deli dan Sungai Babura , yang mana di kampung ini dulunya banyak orang sakit, disitulah Guru Patimpus berjasa dengan mengobati orang orang sakit, dari hal tersebut lah mulanya Guru Patimpus membuka kampung yang semula dalam bahasa Karo disebut Madan , yang artinya sembuh dan baik , dan sekarang di kenal dengan Medan .

Dalam hal Gendang Guro Guro aron atau bahasa Karonya Mburo Ate Tedeh atau Kerja Tahun pada suatu kuta (kampung) adat dan kebiasaan masyarakat karo tersebut adalah Ziarah ke Makam keluarga atau Sanak Saudara , untuk itu lah salah satu tujuan mahasiswa karo ini adalah menjunjung tinggi adat istiadat tersebut dengan berziarah ke Makam Guru Patimpus si Mantek Kota Medan artinya si Mantek orang pertama yang mendiami suatu daerah dan menetap di tempat tersebut

Proses terbentuknya suatu Kota atau desa dalam masyarakat karo adalah dimana pada awalnya suatu kampung atau kuta itu didiami oleh Sekelompok marga tertentu yang disebut dengan kelompok Simantek Kuta, kemudian kelompok Simantek Kuta ini mengajak Senina, Anak Beru, dan Kalimbubu mereka untuk tinggal di kuta yang mereka diami untuk bersama-sama membangun kuta.

Anak beru dan keturunanya yang dibawa oleh Simantek Kuta ini disebut Anak Beru Singian Rudang, sedangkan Kalimbubu yang dibawa oleh Simantek Kuta ini disebut dengan Kalimbubu Simantek Lulang. Ketiga kelompok ( Senina, Anak Beru, Kalimbubu) ini memiliki peranan pentingnya dalm suatu kuta yang dimiliki oleh Simantek Kuta, yang dimana Ketiga kelompok ( Senina,Anak Beru, dan kalimbubu) inilah yang akan menjalankan dan menentukan adat yang ada dan mengatur tata kepengurusan Kota hal tersebut lah yang mendasari simantek Kota Medan adalah marga Sembiring Pelawi . Ujar Ketua Panitia GGA IMKA ERKALIAGA FH USU ( Joyiessandi Karo Sekali)

12235065_1024326767588197_3318239813789126527_n

Makam itu didatangi berdasarkan tradisi lisan yang disampaikan oleh masyarakat sekitar ,dan orang yang sebelum nya sudah pernah kesana, makam Guru Patimpus berada di antara ladang-ladang masyarakat yaitu tanaman tanaman pisang yang tidak terawat dan sangat memprihatinkan , makamnya berupa gundukan tanah saja dan ada batu di sisi kaki dan sisi kepala saja sebagai batu nisan tetapi tidak memiliki nama , dimana dikatakan warga setempat dulu di satu sisi makam tersebut ada Pohon Besar , masyarakat sekitar menandai makam Guru Patimpus ini dengan keberadaan pohon tersebut yang kata warga setempat dulu di pohon tersebut terukir wajar Guru Patimpus . Tetapi, sekarang pohon tersebut sudah di tebang oleh orang yang ceritanya dulu ketika pohon itu ditebang tidak langsung jatuh atau tumbang dengan kata lain tetap kokoh berdiri sampai berbulan-bulan yang pada akhirnya pohon itu jatuh dengan sendirinya , dan seketika pula si penebang pohon tersebut tidak lama meninggal ujar salah seorang warga sekitar ketika saya mencari tahu kebenaran makam tersebut, begitu sakral nya makam Guru Patimpus tersebut yang semakin kuat mempercayai bahwa benar-benar makam tersebut adalah makam Guru Patimpus Sembiring Pelawi.

12196048_1024326734254867_5406715556135488130_n

Mahaiswa Karo dan seluruh anak USU sangat berharap Pemerintah Kota Medan memperhatikan keberadaan makam Pendiri Kota Medan yakni Makam Guru Patimpus yang kondisinya sangat memprihatinkan , harapan kami agar pemerintah Kota Medan segera ambil tindakan dalam hal tersebut untuk menghargai jasa Guru Patimpus sebagai Pendiri Kota Medan.

12193651_1024326900921517_8920632047333970199_n

Selamat hari Pahlawan Guru Patimpus Sembiring Pelawi

Nama mu akan selalu hidup dalam sanubari Setiap insan Kota Medan.

IMKA ERKALIAGA FH USU
(Tommy Aditia Sinulingga)

LEAVE A REPLY