Sajak Pusuk Buhit

0
634

IMG_5647

Salam gigil dari Puncak Pusuk Buhit!

Pagi ini, 2 Januari 2015, kabut tebal menyelimuti puncak Gunung Pusuk Buhit, gunung keramat bagi orang Batak dengan ketinggian 1.900 meter dpl. Empat meter dari tempatku berpijak terdapat sebuah Batu Persaktian yang dipercaya sebagai tempat Si Raja Batak memanjatkan doa kepada Mulajadi Nabolon (Tuhan yang Mahaesa). Dua tiang bendera Batak kokoh berdiri menantang langit di depan Batu Persaktian. Bendera Batak terdiri dari tiga warna, yaitu merah, putih, dan hitam.

Padahal baru kemarin sore kami sibuk memuji Tuhan perihal paras petangnya yang ayu. Matahari merangkak turun, namun jemarinya masih bergelayut di deretan awan rindang. Belum lagi keindahan Danau Toba terlihat jelas dari atas sini. Luas. Siapa pun takjub bila menikmati serpihan surga ini.

***

Setelah memakan waktu sekitar setengah jam berjalan kaki dari simpang Batu Hobon, batu tempat penyimpanan pusaka Si Raja Batak, akhirnya sampai di kaki Gunung Pusuk Buhit. Konon, di kaki gunung inilah, tepatnya di Parik Sabungan, Desa Sariman Rihit, Kecamatan Sianjur Mulamula, orang Batak pertama berkampung dan beranak-pinak.

Pendakian akan dimulai. Mari mengencangkan ikat sepatu dan tas agar makin mantap kaki melangkah. Perjalanan menuju puncak Pusuk Buhit dapat ditempuh dengan mengikuti jalan yang telah disediakan atau mendaki jalan potong. Biasanya dengan mengikuti jalan yang telah disediakan memakan waktu sekitar 5 – 6 jam, sedangkan mendaki jalan potong hanya 3 – 4 jam. Mengikuti jalan yang telah disediakan terasa sangat jauh karena ibarat mengitari gunung. Oleh karena itu, banyak yang memilih jalan potong untuk mempersingkat waktu.

Perjalanan terasa melelahkan. Namun, tetap nyaman karena memakai kaos dari @RumahKaosID. Terima kasih @RumahKaosID!

Akhirnya pendakian sampai ke ‘bahu’ Pusuk Buhit. Di sana terlihat sebuah Tala (kolam). Menurut legenda, Mulajadi Nabolon mengirimkan tujuh gadis dari kayangan ke Pusuk Buhit. Mereka mandi di Tala. Guru Tatea Bulan, putra dari nenek moyang orang Batak, Si Raja Batak, melihat gadis-gadis itu saat mandi. Lalu mengambil kain milik salah satu perempuan kayangan itu. Enam gadis kembali ke langit dan satu lagi tinggal karena diperistri oleh Guru Tatea Bulan.

Banyak orang-orang datang untuk berdoa di Pusuk Buhit. Syarat dasar untuk berdoa, katanya: jeruk purut, daun sirih, dan telur ayam masing-masing tujuh. Bila mampu, orang bisa juga membawa ayam putih atau kambing putih.

Setelah beristirahat, kami melanjutkan pendakian menuju puncak. Dari sini, menghabiskan waktu sekitar satu jam. Kelelahan mendaki terbayar habis setelah berada di puncak. Oh, mak!

Puncak bukit ini, misbah pemujaan nenek moyang yang kenangannya tersimpan di para-para rumah adat zaman batu, di atas perapian.” – Sitor Situmorang