Sifat Dosen Ini Sangat Tidak Disukai Mahasiswa, Pernah ketemu?

0
1815

Bagi seorang mahasiswa, dosen dianggap sebagai orang tua kedua karena telah mendidik, merawat, mengajar, dan memberikan ilmu kepada mereka. Sudah sewajarnya bagi para mahasiswa untuk menghormati dosen begitu pula sebaliknya.

Dosen yang hanya manusia biasa, juga punya kekurangan dan kelebihan dalam menyampaikan materi. Makanya menurut mahasiswa, ada 2 jenis dosen, yakni dosen favorit dan dosen yang dibenci. Kali ini kita bakalan bahas seperti apa sih karakteristik dosen yang tidak disukai mahasiswa.

1. Dosen yang sangat pelit nilai
Mungkin tipe ini adalah yang paling absolut diantara tipe yang lainnya, maksudnya adalah bahwa hampir semua mahasiswa pasti setuju . Siapa sih mahasiswa yang nggak ingin mendapat nilai yang sempurna dan bagus dalam kuliahnya. Karena tanpa kita sadari bahwa elemen nilai adalah salah satu tolak ukur keberhasilan daya serap mahasiswa terhadap satu mata kuliah. Semakin rendah nilai yang dia peroleh, maka peluang dia menguasai materi tersebut juga mungkin kecil. kalau dipikir-pikir , bagaimana dosen tipe ini masih bisa eksis sampai sekarang. Bahkan banyak dosen berujar, bahwa nilai A adalah milik Tuhan, B milik dosen tersebut dan untuk mahasiswa adalah C dan D. Satu hal yang pasti, popularitas dosen tersebut dimata mahasiswa tentu akan merosot dan menyebabkan namanya paling dibenci mahasiswa. Pelit boleh tapi ada batasnya dong.

2. Dosen yang tidak demokratis
Sekarang Indonesia telah memasuki masa demokrasi, dimana pluralisme dan kebebasan berpendapat dan berekspresi semakin dijunjung. Tak hanya di bidang politik, namun juga di bidang pendidikan. Dalam bidang pendidikan, contoh nyatanya adalah seorang dosen dituntut “open-minded” terhadap pendapat mahasiswanya. Dan kadangkalanya hal itu tidak berlaku pada dosen tertentu, mereka masih saja bersikap otoriter dan diktator, dimana setiap perkataan yang keluar dari mulutnya merupakan sebuah kebenaran mutlak dan semua mahasiswanya harus setuju. Sedikit saja ada perbedaan persepsi dan pendapat antara dosen dan mahasiswa, dapat dipastikan bahwa nilai mahasiswa tersebut akan turut terpengaruh. Dalam alam demokrasi dan liberal tidak ada satupun jargon yang benar dalam menyikapi suatu masalah (terutama masalah sosial), setiap orang melihat sesuatu dari sisi yang berbeda, mungkin dosen melihat dari sisi A sedangkan mahasiswa lebih melihat dari sisi B terhadap suatu pokok masalah yang sama. Kemudian, apakah kita dapat menjudge sesorang salah dan benar? Dan jikalau semua perkataan dosen yang benar, dimana hakekat dari pendidikan? Sehingga ungkapan KBM atau Kegiatan Belajar dan Mengajar tidak lagi relevan, seharusnya diganti saja dengan Kegiatan Mengajar dan Mengajar, Jadi teringat dengan kata-kata ini “Everyone is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid.”~albert einstein.
Kita manusia ini dianugerahi dengan akal dan pikiran untuk bisa mengutarakan kebenaran yang dianggap menjadi suatu patokan yang akan dianut kedepan, jika model dosen diktator masih ada dijaman sekarang ini, lalu apa arti dari mengajar tersebut? bukannya mengajar untuk membuat orang pintar?

anakusu.com

3. Dosen yang datang seenaknya
Mungkin di awal-awal kamu masuk kuliah alias maba, setiap dosen enggak masuk perkuliahan pasti bakalan seneng banget. Apalagi kalau jarang masuk dan nilai dibuat rata “A” atau “B+” semua. Wah pasti seneng banget dong, terutama bagi mereka yang malas kuliah.

Namun dosen tipe ini justru sangat dibenci mahasiswa tingkat akhir. Sebab bagi mala (mahasiswa lama), mereka butuh bimbingan untuk menyelesaikan tugas akhir atau skripsinya. Gimana mau selesai skripsinya, kalau dosennya aja enggak pernah hadir.

4. Dosen yang tidak menguasai keadaan kelas
Tipe ini sangat dirasakan mahasiswa ketika mereka harus kuliah di waktu siang hari, belum makan siang dan dalam keadaan mengatuk. Atau disaat sedang kuliah yang dosennya membosankan dan memakan waktu yang lama. Seharusnya seorang dosen harus menguasai keadaan sekitar termasuk keadaan mahasiswa yang sedang diajarnya. Ketika suasana kelas sudah masuk ke tahap membosankan dan banyak mahasiswa yang mukanya masam, dosen yang bijaksana sebaiknya menghentikan kegiatan belajar mengajar dan bertanya kepada mahasiswa apakah kuliah ini dilanjutkan atau tidak sehingga tidak ada kerugian di kedua belah pihak.  Mahasiswa cenderung akan menyibukkan dirinya sendiri, seperti mengobrol dengan teman, sms-an, otak-atik handphone, menggambar sampai melamun hal-hal yang tidak benar. Ketika suasana sudah tidak lagi kondusif, maka diperlukan sebuah terobosan baru yang dapat membangkitkan suasana dan itu dapat dilakukan jika sang dosen telah berpengalaman.

Mengajar adalah ilmu sekaligus seni. Ia bisa dipelajari tetapi juga membutuhkan kepekaan. Banyak dosen yang gagal dalam hal ini. Dosen tipe ini terus mengajar tanpa peduli apakah mahasiswa paham atau tidak. Seharusnya dosen membuat persiapan mengajar agar materi yang disampaikan tidak membuat bosan dan mahasiswa tertarik untuk terus menyimak. Dosen seyogyanya mengevaluasi sistem pembelajarannya dan mengevaluasi karakter mahasiswanya. Persiapan mengajar itu bagi dosen dianggap sesuatu yang merepotkan tapi itu harus dilakukannya agar pembelajaran berjalan sukses. Sesekali selingan humor bisa diberikan, agar suasana kelas sedikit segar terutama jika kuliah siang dan sore hari.

Dear, Dosen ku tersayang, kita ini layaknya artis dan Fans…kita saling tidak ada jika tidak bersama.

The great difficulty in education is to get experience out of ideas. ~ George Santayana

 

 

LEAVE A REPLY