UGM Kembangkan Ilmu Psikologi “Bahagia” dari Ki Ageng Suryomentaram

0
964

YOGTAKARTA, KabarKampus – Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) saat ini tengah mengembangkan teori psikologi dari ajaran Ki Ageng Suryomentaram, anak ke-55 dari Sri Sultan Hamengku Buwono VII. Tokoh yang lahir dan besar dari keluarga Keraton pada 1892-1962 dikenal sebagai tokoh yang mengajarkan ilmu bahagia lewar konsep kawruh jiwa.

Fakultas Psikologi UGM mengharapkan, ajaran Ki Ageng Suryomentaram menjadi cikal bakal lahirnya teori psikologi lokal. “Ki Ageng Suryomentaram menciptakan teori psikologi Jawa karena ia orang Jawa,” kata Drs. Hadi Sutarmanto, Psikolog M.S., dalam Sekolah Kawruh Jiwa Suryomentaram di Fakultas Psikologi UGM, Jumat (14/11/2014).

Tapi, menurut Hadi ajarannya bisa jadi relevan tidak hanya terbatas bagi orang Jawa saja. Teori psikologi sebenarnya tidak terbatas dengan kewarganegaraan dan letak geografis apalagi etnisitas.

Hadi menjelaskan, meski tidak mudah mengembangkan ajaran Ki Ageng Suryomentaram menjadi teori psikologi. Namun ia berharap ilmu psikologi lokal dari Ki Ageng Suryomentaram bisa diajarkan di perguruan tinggi. Pasalnya sebagian besar teori psikologi yang diajarkan saat ini di Indonesia lebih berkiblat pada teori psikologi barat yang dikembangkan oleh tokoh-tokoh psikologi dari bangsa Yahudi.

“87 persen ahli psikologi dunia berlatar belakang Yahudi. Tentu teori yang dikembangkan ini sesuai dengan budaya mereka masing-masing,” ujarnya.

Namun demikian, kata Hadi, sumber teori psikologi lokal memang belum banyak diteliti dan dikembangkan. Penelitian psikologi nusantara yang dilakukan psikolog UGM baru dilaksankan satu dekade terakhir.

Sementara jelas Hadi, beberapa buku yang dihasilkan oleh dosen UGM sebelumnya mengenai psikologi Ki Ageng Suryomentaram ini bahkan telah diadopsi oleh universitas Santo Thomas Filipina, universitas tertua di Asia, sebagai bahan ajar mahasiswa jenjang S2 dan S3.

Hadi berharap penelitian mengenai psikologi Ki Ageng Mentaram di kemudian hari bisa dijadikan teori psikologi khas Indonesia. Dengan begitu pendidikan psikologi UGM bisa menjadi mazhab psikologi nusantara.

“Impian saya psikologi tidak lagi yang diajarkan tidak lagi dari barat namun dari Indonesia sendiri,” katanya.

Sementara itu, Lu’luatul Chizanah, M.A., Dosen Psikologi UGM menjelaskan, salah satu ajaran Ki Ageng Suromentaram seperti diketahui, diantaranya memaknai rasa senang dan tidak senang. Menurutnya senang atau tidak senang itu bukan fakta tetapi reaksi kita atas fakta. Manusia itu makhluk dengan rasa, walaupun bermacam tapi dapat diringkas menjadi dua, rasa enak dan tidak enak.

“Dalam pergaulan seseorang harus mengerti rasa dari yang lain. Ketidak pengertian akan menimbulkan rasa yang tidak enak dan akhirnya timbul perselisihan. Karenanya mengerti rasa orang lain maka harus mengerti rasa diri yang mengahalanginya,” ungkap Lu’luatul.[

LEAVE A REPLY