USU Gelar Budaya Tanah Air “Gendang Guro-Guro Aron”

0
1052

anakusu.com-medan : Begitu banyak kebudayaan diIndonesia yang perlu dipertahankan dan dilestarikan. Salah satunya adalah tradisi Gendang Guro-guro Aron yang berasal dari tanah Karo Sumatera Utara. Oleh karena itu, Universitas Sumatera Utara melalui Biro Kemahasiswaan menggelar acara “Gendang Guro-Guro Aron USU” yang dilaksanakan di Pendopo USU pada Kamis, (3/12/2015). “Universitas Sumatera Utara tentu sangat mengapresiasi acara Gendang Guro-Guro Aron ini, karena selain bertujuan untuk melestarikan budaya bangsa, kiranya juga dapat meningkatkan rasa cinta dan pengetahuan generasi bangsa terhadap budaya dan kearifan lokal suku bangsa, khususnya Mahasiswa USU yang sedang mengadakan perhatian ataupun penelitian tentang kebudayaan yang ada di Indonesia”. Ungkap Pj. Rektor USU ketika ditemui di sela acara yang sedang berlangsung.

gendang guro2 aron 1

Hadir dalam acara ini Pejabat Rektor USU Prof. Subhilhar, Ph.D yang juga sekaligus membuka secara resmi acara Gendang Guro-Guro Aron USU ini. Kepala Biro Kemahsiswaan dan Kealumnian USU Dra. Hindun Pasaribu, Para Wakil Dekan III USU, Dosen USU serta Mahasiswa USU. Acara yang berlangsung Mulai dari pagi hingga sore hari ini diisi dengan berbagai macam kebidayaan Karo seperti; Tarian, nyanyian dan musik Karo. Terlihat dalam kegiatan ini Pj. Rektor dan para tamu undangan turut serta menari bersama dengan diiringi musik Karo.
Jika kita mencoba sedikit menelaah,  Guro-guro Aron dapat diartiikan kedalam dua kata, yaitu; “Guro-Guro” yang berarti main-main, bersenda gurau. Kemudian “Aron” yang berarti muda-mudi, anak perana dan singuda-nguda yang dalam tradisi mengerjakan lading bersama-sama. Kemudian Kata “Gendang” didepannya yang diartikan sebagai sebuah kerja, pesta, upacara dengan tari-tarian memberikan pengertian Gendang Guro-guro Aron merupakan kerja, pesta, upacara yang diperuntukkan sebagai ajang muda-mudi erguro-guro.

gendang guro2 aron 2

Dalam tradisi ini ada beberapa fungsi dan tujuan diadakannya Gendang Guro-guro Aron ini, antara lain:

  • Agar bisa sebagai bentuk ucapan syukur atas musim panen yang telah dilalui dan doa dan harapan agar musim selanjutnya seperti ungkapan “Mbuah page nisuan, merih manuk niasuh” (Padi berbuah banyak, ayam berkembang biak dengan banyak) sebagai salah satu simbol kemakmuran pada masyarakat Karo.
  • Agar anak perana & singuda-nguda belajar ertutur dan mengetahui adat.
  • Agar beberapa anak perana yang diangkat sebagai pengulu aron, dan singuda-nguda yang jadi nande aron, bisa berlatih kepemimpinan.
  • Agar aron ini semua tetap semangat dan rajin mengerjakan ladang.
  • Sebagai wadah bertemunya pemuda dan pemudi, tempat pencarian jodoh.
  • Sebagai tempat belajar mempercantik diri, bersolek, memakaikan kain-kain tradisional (metik).
  • Sebagai hiburan di desa.

Gendang Guro-guro Aron ini memiliki hal spesial bila dibandingkan dengan pesta lainnya. Biasanya, Gendang Guro-guro Aron ini diiringi dengan Gendang Lima Sendalanen, sebuah perangkat musik tradisional Karo yang terdiri dari lima alat musik; Sarune (alat musik tiup), Gendang Singindungi, Gendang Singanaki, Gong dan Penganak (gong kecil) sebagai pengatur ritme. Namun, beberapa tahun terakhir banyak yang menggunakan hanya kibot Karo (Organ tunggal), atau kolaborasi Kibot dengan Gendang Lima Sendalanen. Juga ditambah dengan kehadiran Perkolong-kolong (biduan yang bisa menari dan menari) yang biasanya dalam acara ini ada sepasang, dan pada kesempatan khusus mereka “diadu” dengan lagu-lagu Karo yang seringnya menyampaikan lawakan. Tarian Aron dalam pesta ini memiliki hal spesial dengan tari yang biasanya, Aron landek (menari) dengan cara yang berbeda, sering orang menyebutnya tari Tonggal Tan (Tonggal: satu; Tan: tangan). Acara yang lebih memfokuskan pada Aron, biasanya menjadi hajatan yang ditunggu-tunggu dan dihadiri oleh semua orang di kampung tersebut, bahkan didatangi oleh warga-warga dari desa tetangga. Giliran yang menari dalam pesta ini juga menunjukkan tujuan pengkhususan pada muda-mudi dengan jatah menari Aron dan orang tua menjadi sama, yang pada acara biasa, giliran menari untuk anak muda hanya diberikan hanya sekali, atau sisa waktu ketika semua tegun (kelompok) sudah  menari.

 

Sumber : usu.ac.id

 

LEAVE A REPLY