USU PERLUAS KERJA SAMA DENGAN PERUSAHAAN OIL&GAS

0
954

anakusu.com-Medan : Universitas Sumatera Utara kembali mengadakan kerjasama yang kali ini menggandeng PT. Pertamina Hulu NSB, PT. Pertamina Hulu NSO, dan PT. Perta Arun Gas, yang dilanjutkan dengan Kuliah Umum. Kegiatan berlangsung pada Jum’at (08/01/16), dan digelar di Aula Fakultas Pertanian USU, dihadiri pula oleh Penjabat Rektor USU Prof. Subhilhar, PhD, Dekan Fakultas Pertanian Prof. Darma Bakti , Ir. Adi Harianto, MM (General Manager PT. Pertamina Hulu NSB, PT. Pertamina Hulu NSO), Ir. T. Khaidir, MM (President Director PT. Perta Arun Gas), para Guru Besar Fakultas Pertanian, staf pengajar, dan para mahasiswa.

Pertamina 2

Prof. Subhilhar, PhD, menyebutkan, USU dan PT. Pertamina sudah lama menjalin kerjasama seperti pembangunan dalam bentuk gedung dan sarana. Prof. Subhilhar juga mengatakan, bahwa penandatanganan naskah kerjasama dengan kedua perusahaan tersebut adalah dalam rangka mengoptimalkan prinsip kemitraan yang saling memberikan manfaat bagi ketiga pihak. Sementara dengan perluasan kerjasama itu, katanya, bertujuan untuk mengembangkan institusi dan meningkatkan program kerja yang dapat memberikan keuntungan bagi ketiganya.
Saat ini, ucap Pj Rektor, USU sudah punya kampus di Kuala Bekala yang sangat membutuhkan pengembangan dalam pembangunan sarana dan prasarana, dan hal itu tidak mudah terwujud tanpa bantuan dan kerjasama dengan pihak lain, sehingga membuat USU membuka kesempatan kerjasama seluasnya dengan berbagai pihak. “Mudah-mudahan PT. Pertamina juga dapat memberikan kontribusinya disana, karena kita sudah membangun prodi Kehutanan di kampus tersebut agar cepat beraktifitas,” kata Pj Rektor.

 

Ruang lingkup dari kerjasama itu, lanjut Prof. Subhilhar , meliputi bidang pendidikan, bidang penelitian, dan bidang pengabdian pada masyarakat. Prof. Subhilhar menginginkan kerjasama ini dapat berjalan dengan baik dan berkelanjutan. “Saya juga berharap kerjasama PT. Pertamina ini tidak hanya dilakukan dengan Fakultas Pertanian, tapi juga dapat menggandeng fakultas lain,” pungkas Prof. Subhilhar.

Pertamina 4

Sementara Dekan Fakultas Pertanian Prof. Darma Bakti mengatakan, saat ini pemerintah RI menggalakkan swasembada pangan. Sebab dikhawatirkan di suatu saat nanti sumber daya energi fosil semakin terbatas sehingga beralih ke produk dari bidang pertanian apalagi saat ini banyak produk energi berasal dari produk pertanian. Yang menjadi masalah, kata  Prof. Darma, adalah saat program ketahanan pengan belum selesai tapi produk energi dari pertanian harus segera dikembangkan. “Untuk itu saya yakin bahwa sampai kapanpun pertanian itu adalah harapan,” ujar Prof. Darma.

 

Dalam Kuliah Umum yang disampaikan oleh Ir. T. Khaidir, MM, dengan topik “Sustainable Development in Indonesia with Oil and Gas as a Main Source of Energy” dan Ir. Adi Harianto, MM, dengan topik “Bagaimana Kiprah Pertamina Dalam Industri dan Bisnis di Indonesia dan Internasional” menyebutkan adanya perubahan paradigma pengelolaan energi saat ini yaitu kebutuhan energi yang belum efisien, kebutuhan energi tersebut dipenuhi dengan energi fosil dengan biaya berapapun dan malah disubsidi, energi terbarukan hanya sebagai alternatif, dan sumber energi terbarukan yang tidak termanfaatkan menjadi sia-sia.
Untuk kedepannya, lanjutnya, ada upaya untuk lebih efisien dalam kebutuhan energi, maksimalkan penyediaan dan pemanfaatan energi terbarukan yang paling tidak dengan harga pada avoided fossil energy cost dan bila perlu disubsidi, energi fosil dipakai sebagai penyeimbang, dan menjadikan sumber energi fosil yang tidak termanfaatkan adalah sebagai warisan untuk anak cucu.

Menurut Khaidir, pemanfaatan energi terbarukan juga dapat lebih mengembangkan energi biomassa sebab biomassa adalah satu-satunya sumber energi terbarukan yang merupakan sumber daya bahan bakar (alias mampu menggantikan bahan bakar fosil dalam semua pasar energi) dan merupakan komponen kunci dan jalur strategis dalam perjuangan mencapai Millenium Development Goals (MDGs). Sumber energi yang lain seperti sinar surya, tenaga air, tenaga angin, panas bumi, arus laut, tenaga ombak, energi termal samudra, dan tenaga nuklir hanya mudah dikonversi menjadi listrik.
Sementara Adi Harianto mengatakan, energi dunia sedang beralih dari sebuah sistem energi berbasis sumber daya fosil ke sistem energi baru berbasis sumber daya terbarukan. Dijelaskannya, geothermal dan bioenergi merupakan jembatan transisi vital peralihan sistem energi berbasis sumber daya fosil ke sistem energi bersih berbasis sumber daya terbarukan.

Pertamina 3

Saat ini, katanya, PT. Pertamina berkomitmen untuk mendukung pemanfaatan Biofuel (BBN) sebagai Bahan Bakar Alternatif sesuai dengan Mandatori Pemerintah (Permen no. 32/2008) sehingga upaya menggandeng Perguruan Tinggi sangat signifikan, khususnya peran keteknikan kimia dalam menanggulangi permasalahan lingkungan dan energi. “Maka selayaknya para sarjana Teknik Kimia tertantang untuk lebih giat melakukan riset maupun pengembangan teknologi energi baru dan terbarukan, antara lain hydrolysis, fermentation, heattransfer, tranesterification, gasification biological, bio photochemical routes, photosynthetic, micro organisme, biomass upgrading, ecofining, dll,” ujar Adi.
Adi menyarankan, pertama, agar pemangku kepentingan seperti Pemerintah, Pertamina, Perguruan Tinggi, industri, dan LSM, lebih bersinergi bekerjasaam memastikan bahwa upaya pengembangan Geothermal, CBM dan Bioenergi berada pada jalur yang benar. “Kedua, Pemerintah perlulah untuk mengintervensi tata niaga dan penentuan harga produk guna menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi, sosial, dan kelestarian lingkungan agar tercipta keberlanjutan energi baru terbarukan,” tutur Adi.

Sumber : usu.ac.id

LEAVE A REPLY