Zubeir, “Kuatnya Tekat anak Desa untuk Kuliah”

0
1101

Siapapun pasti ingin mengenyam pendidikan setinggi-tingginya agar ia bisa meraih cita-cita dan masa depan yang cemerlang, begitu pula halnya yang dirasakan oleh Ahmad Zubeir Rangkuti atau biasa disapa oleh Zubeir ini ketika ia ingin membulatkan tekadnya untuk bisa melanjutkan kuliah seperti kebanyakan orang lainnya. Sayangnya hal ini menjadi hal yang amat langka yang terjadi di desanya dimana hanya orang yang mampu yang sanggup melanjutkan kuliah, namun hal itu tidak menyurutkan langkh Zubeir untuk bisa berkuliah. Lulus SNMPTN dan program beasiswa Bidik Misi menjadi awal kesempatan Zubeir untuk bisa mengenyam pendidikan.Sayangnya hal ini tidak disertai dengan kemampuan finansial orang tua Zubeir yang tidak sanggup membiayai keperluannya kuliah. Sempat terpukul dengan kondisi finansial yang dihadapi, namun hal itu tetap tidak menyurutkan dirinya untuk kuliah. Dalam keluargannya hanya 2 orang yang berhasil melanjutkan pendidikan sampai ke perkuliahan dari 8 bersaudara. Orang tuanya berprofesi sebagai petani dan pengambil getah karet serabutan yang hanya bisa membiayai makan dan keperluan rumah, hal inilah yang menjadi pertimbangan orang tua Zubeir ketika hendak melepas anaknya untuk kuliah di Medan.

Melihat kondisi orang tuannya, Zubeir berusaha menenangkan orangtuanya bahwa beasiswa yang didapatkannya bisa ia andalkan nantinya ketika di Medan. Pergi ke Ibu Kota untuk mendapatkan pendidikan tentu saja tidak semudah yang pernah ia bayangkan, suka duka dalam menjalani kehidupan di tempat orang sering ia alami, pernah suatu saat karena tidak ada biaya untuk menyewa kost-kostan ia tinggal di Mesjid sebagai nazir, berjalan dari tempat tinggalnya ke kuliah yang cukup jauh jaraknya sehingga tak jarang panasnya sinar matahari membuat kepalanya pusing dan berkeringat setiba di tempat perkuliahan, hampir tidak makan, dan kebutuhan perkuliahan yang harus ia penuhi dengan cara meminjam sering ia lakukan dan berjanji menggantinya ketika uang beasiswa Bidik Misinya sudah cair. Dia sadar betul bahwa tak selamanya uang beasiswa itu bisa diandalkan dalam memenuhi kebutuhannya, belum lagi pencairan dana beasiswa yang sering telat sehingga membuatnya memutar otaknya untuk bisa memenuhi kebutuhannya.

Kerja mengajar merupakan solusi dari berbagai masalah finansial yang ia hadapi setelah 3 bulan dalam semester pertama orang tuannya tidak sanggup mengirimkan uang bulanan lagi kepadanya, Zubeir sempat putus harapan apakah ia tetap melanjutkan kuliahnya atau tidak padahal saat itu dirinya masih semester pertama. Mahasiswa yang sedang melanjutkan program studinya saat ini di Fakultas Ekonomi dan Bisnis jurusan Akuntansi USU ini tetap berusaha memotivasi dirinya untuk bisa berkuliah, kalimat “Man Shabara ala Zhafira” yang artinya siapa yang bersabar pasti akan beruntung, dia yakini sehingga apapun yang terjadi jika ia tetap sabar dengan apa yang terjadi pasti dia akan mendapatkan hasil yang tidak ia sangka. Ia mulai bangkit dan mencari cara untuk tetap kuliah, dengan mengajar di tempat-tempat les maupun privat, walaupun terkadang badannya menjadi korban karena aktifitas yang dilakukannya tidak hanya belajar tetapi juga bekerja.

Walaupun bekerja nilainya bisa terus naik dan dia juga bisa menolong kedua adiknya untuk bisa mengenyam pendidikan. Usaha yang ia lakukan bahkan bisa menolong adiknya yang saat ini berkuliah di Jurusan Antropologi FISIP dan SMK. Selain belajar, ia juga suka menulis, bersama dengan anak Bidik Misi lainnya menciptakan buku inspirasi “Langkah Tak Beraturan” yang diterbitkan USU Press yang diharapkan bisa memotivasi mahasiswa lainnya yang kurang beruntung dalam masalah finansial agar tetap semangat dalam melanjutkan kuliah.

LEAVE A REPLY